Ngobrol Politik di KIU, Bak Debat di Atas Roller Coaster

Kemarin saya diundang dalam WAG dengan member yang fantasis, 1021 orang. Nama grup-nya, “Kolaborasi IKA Unhas” selanjutnya KIU. Dari namanya genre grup bisa diraba. Akibat jumlah peserta dan penghuni yang didominasi mantan aktivis laju percakapan pada momen tertentu bisa menyalib kecepatan Shinkansen yang maksimal hanya mampu ngebut sejauh 250 KM per jam. Bisa dibayangkan betapa sibuk dan bisingnya aktivitas dalam grup.

Bagi yang tak tergolong fomo membuka grup cukup menyiksa melihat pergerakan percakapan yang bak roller coaster. Sementara bagi yang lain bisa jadi merupakan berkah, peluang membuka lapak gratis terbuka lebar. Bagi politisi, konsultan, saudagar yang ingin berkampanye serta menawarkan gagasan, KIU merupakan potensi pasar yang menjanjikan.

Halnya dengan WAG pada umumnya, materi percakapan juga tidak beda jauh kecuali bahwa di KIU secara psikologis anggotanya bisa lebih rileks serta leluasa bahkan provokatif membicarakan alumni dalam segala hal tanpa perlu berbasah basi.

Isu yang sempat trending adalah gagasan mendorong secara aktif alumni terbaik maju sebagai kandidat Wapres. Gagasan ini sepertinya terinspirasi oleh kedatangan bakal Capres usungan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya, Prabowo Subianto ke AAS Building menemui Ketum IKA Unhas, Dr. A. Amran Sulaiman di Makassar beberapa hari lalu. Kedatangan Prabowo diterjemahkan publik sebagai penjajakan kemungkinan AAS diusung sebagai Wapres Prabowo. Padahal bisa jadi kedatangan Prabowo bermaksud mengajak AAS bergabung dalam barisan pemenangan untuk menjinakkan JK dan gerbongnya yang sejak awal memastikan diri tegak di barisan Anies Baswedan.

Membaca momentum tersebut, jurnalis senior, Mulawarman yang akrab disapa Kak Mul menawarkan ke alumni secara aktif mendorong tokoh terbaik IKA maju sebagai kandidat Wapres.

Tawaran Kak Mul direspon sejumlah alumni dengan menyodorkan dua nama yang dipandang kapabel serta kredibel, AAS dan SYL yang langsung diamini sejumlah partisipan.

Hanya saja menurut Kak Mul untuk saat ini secara politik pintu SYL untuk posisi Wapres nyaris tertutup rapat.

Gagasan mengusulkan alumni sebagai Wapres yang mengerucuk pada sosok AAS juga berupaya dikaitkan dengan politik kawasan. Dengan reputasi moncer sebagai Mentan dan saudagar sukses sosok AAS dipandang perpaduan ideal yang diyakini berperan signifikan mendulang sokongan mayoritas masyarakat, khususnya dari Kawasan Timur Indonesia.

TERKAIT:  BANJIR MAKASSAR, SALAH SIAPA?

Sebaliknya pendekatan politik kawasan menuai kritik dari Farid Ma’ruf Ibrahim yang saat ini bermukim di Melbourne. Menurut alumni S-2 Universitas Osbro Swedia dan merai PhD di Melbourne University, pada Pilpres 2024 isu politik kawasan tak lagi relevan. Isu sentral Pilpres bergeser ke arah vis a vis antara Kubu Status Quo Versus Kubu Perubahan.

Meskipun tak mengaitkan langsung dengan wacana mengusung AAS sebagai Wapres arah pernyataan Farid tidak sulit ditebak.

Pandangan Kak Mul, tokoh yang dikenal fanatik dan sangat loyal terhadap segala hal yang berkaitan dengan alumni dalam konteks demokrasi cukup problematik. Secara logika sulit menjelaskan bahwa memilih pemimpin untuk semua orang tapi ukurannya harus ada “orang kita” di dalamnya. Berbeda misalnya kalau diskursus yg berlangsung soal carut marut kehidupan kebangsaan lalu kita bersepakat menentukan tipikal pemimpin yg pas untuk konteks itu sebagai representasi alumni lalu diusung ramai-ramai dan gagasan yang dibawanya diperdebatkan secara terbuka. Lain soal kalau gagasan dianggap urusan ke sekian yang penting simbol alumni berkilau di kursi Wapres.

Ketika Susi Pudjiastuti menerima tawaran Jokowi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Susi tidak datang dengan kepala kosong, juga tidak sekadar bermaksud melanjutkan agenda pendahulunya yang biasanya secara retorik disampaikan dalam pidato pelantikan dengan ucapan: “Untuk membenahi yang kurang dan melanjutkan yang sudah baik”.

Susi berdasarkan pengetahuan serta pengalaman panjang selama puluhan tahun sebagai pengusaha hasil laut memahami permasalahan utama bangsa kita di laut yakni, Sovereignty. Seluruh pangkal masalah tata kelola kekayaan alam kita di laut adalah tidak berdaulatnya kita di atas laut kita sendiri.

Dari sana Susi melakukan langkah perbaikan secara radikal dengan menyiapkan regulasi serta infrastruktur pendukung lainnya hingga tim terpadu untuk melindungi laut kita dari para perompak dan mata publik terbuka lebar. Meskipun pada akhirnya Susi terlempar namun beliu telah menjadi role model bagaimana seharusnya menjadi pejabat publik yang ideal.

Pertanyaan sederhana saya, gagasan apa yang ingin ditawarkan AAS bila beliau diusung sebagai Wapres?

Atau mengapa IKA Unhas tidak berupaya membangun posisi tawar lewat gagasan besar semisal,”Visi Indonesia Masa Depan dalam Perspektif IKA Unhas” dan seterusnya.

TERKAIT:  Kepersertaan Kampus Hukum dan Organisasi Bantuan Hukum dalam Suksesi DPC PERADI Makassar

 

 

 

 

 

 

 

Yang Terpental dan Yang Melenting di Pilkada Maros Versi Warung Kopi

Hasil real count lembaga survei yang digrlar beberapa jam pasca penutupan TPS di pilkada Maros menunjukkan perolehan paslon Chaidir Syam-Muetazim Mansyur (CS-TA) berselisi sekitar 50 ribu suara.

Kemenangan telak paslon CS-TA sudah diprediksi jauh hari. Dua lembaga survei yang mengawal paslon CS-TA sejak awal mengunggulkan CS-TA dengan persentase keterpilihan di angka 70 persen.

Perolehan suara paslon CS-TA yang sedikit di bawah ekspektasi ini dipeekirakan akibat rendahnya partisipasi pemilih. Jumlah pemilih yang datang ke TPS kurang dari setengah keseluruhan jumlah DPT Kabupaten Maros.

Catatan kecil ini mencoba memungut serpihan informasi yang berserakan di kedai kopi untuk melihat seberapa besar pengaruh tokoh serta elit politik lokal yang terlibat mendukung Kotak Kosong menggerus paslon CS-TA.

Atau dengan kata lain, seberapa relevan upaya glorifikasi ketokohan berpengaruh signifikan mampu mempengaruhi pemilih dalam kontestasi politik pilkada di Kabupaten Maros.

Pasca perhitungan cepat masih sulit bagi bagi sebagian orang menerima fakta bahwa keterlibatan tokoh sekelas Hatta Rahman, mantan Bupati Maros dua periode dwngan berbagai atribut  lainnya seperti mantan Ketua DPRD Maros serta, mantan Ketua DPD II Partai Amanat Nasional Kabupaten Maros yang juga seorang pengusaha serta keterlibatan sejumlah tokoh lain yang namanya ikut disebut seperti Andi Husain Rasul, Andi Fahri Makkasau serta Plt Bupati Maros Suhartina Bohari dan seterusnya tidak berpengaruh signifikan mendongkrak perolehan suara kotak kosong.

Dari berbagai platform media sosial, publik menyaksikan upaya perlawanan para elit serta tokoh tersebut terhadap paslon CS’TA yang tidak bisa dianggap enteng.

Pernyataan Hatta Rahman yang disampaikan secara terbuka di medsos berdasarkan informasi yang diterima selama berkeliling mensosialisasikan serta mengajak warga memilih kotak kosong menyimpulkan kalau mayoritas masyarakat Maros menginginkan kemenangan kotak kosong.

Soal keseriusan pendukung kotak kosong mengawal dan memastikan berlangsungnya pilkada bersih juga tidak tanggung-tanggpung, LSM Pekan 21 yang dinahkodai Amir Kadir dan dikenal publik sebagai pendukung kotak kosong  bahkan bertindak mengatsnamakan kotak kosong melaporkan dugaan pelanggaran tim CS’TA baik di Bawaslu maupun langsung ke penyidik kepolisian berhasil meraih akreditasi KPU Maros sebagai pemantau serta memastikan melibatkan relawan pemantau selaku saksi pada setiap TPS sebagai saksi kotak kosong pada saat pencoblosan kemarin.

TERKAIT:  Pilpres dan Logika Satu Putaran

Keberhasilan Amir Kadir ini terlihat dari kemampuannya mengirim sekitar 70 calon saksi dalam Bimtek saksi yang diselenggaran Bawaslu Maros menjelang pencoblosan.

Kemampuan LSM Pekan 21 memobilisasi relawan sebanyak itu dalam rentang waktu yang sedemikian singkat patut diacungi empat jempol mengingat kepastian kelolosan sebagai lembaga pemantau berakreditasi yang secara resmi baru diputuskan pada 16 November 2024.

Belakangan beredar rumor kalau Pekan 21 berhasil memobilisasi komunitas Pramuka Maros berkat partisipasi tokoh berpengaruh di komunitas pada cucu powel…..

Keberhasilan menarik aktivis pramuka dalam palagan politik pilkada jika rumor ini benar merupakan prestasi luar biasa dari LSM Pekan 21 serta tokoh yang ikut terlibat di dalamnya.

Sementara di platform media sosial tampil sejumlah tokoh yang sangat getol menyuarakan kotak kosong. Di grup whatsApp Gladiator misalnya yang mayoritas di huni mantan aktivis serta warga Maros lainnya, nama H. Anwar tokoh masyarakat Maros yang sukses di perantauan dan berdomisili di Papua sangat aktif mengkritisi paslon CS-TA dan gencar mengedepankan isu putra daerah. Sementara H. Malik yang juga sukses mengadu nasib sebagai pengusaha di Papua dan kini kembali ke kampung halamannya di Msros dan berhasil mengantar putra putrinya melenggang ke kursi legislatif diisukan diam-diam mendukung kotak kosong sekalipun beliau sempat mengungkapkan dukungan secara terbuka ketika dikunjungi Chaidie Syam di kediamannya.

Dalam kepungan tokoh serta elit Maros ini, Chaidir Syam yang diserang kampanye negatif hingga kampanye hitam tetap tenang dan mampu menepis semuanya tanpa sikap jumawa. Sikap Chaidir Syam sekali lagi menunjukkan sosoknya sebagai politisi dengan kemampua leadership yang baik serta kematangan emosional membuatnya mampu memenej tim dan jenhontrol serangan lawan politiknya. Dengan bekal ini Chaidir mampu mengendalikan turbulensi dahsyat saat wakil sebelumnya, Suhartina Bohari dinyatakan TMS.