Sebulan menjelang pemilihan kepala daerah serentak persaingan antar paslon makin memanas. Beragam upaya dikerahkan agar elektabilitas bisa langsung melesat meninggalkan lawannya, dari hal paling umum seperti memperkenalkan sejak awal visi misi pada masyarakat serta rencana masa depan mereka jika kelak terpilih hingga strategi kampanye hitam secara vulgar di media sosial.
Pada sejumlah pemberitaan, publik menyaksikan upaya saling sikut diantara paslon dengan saling lapor ke Bawaslu soal dugaan pelanggaran administrasi maupun pidana.
Sementara di Kabupaten Maros yang merupakan satu-satunya daerah di Sulsel yang menggelar pilkada dengan paslon tunggal berhadapan dengan kotak kosong juga ikut menghangat.
Pendukung kotak kosong yang awalnya memilih strategi grilya kini terlihat cukup percaya diri menampakkan diri secara terang-terangan seperti mendirikan posko pemenangan, menfasilitasi tim-nya dengan atribut seperti rompi, kaos serta mulai melakukan aktivitas terbuka di ruang publik.
Hari ini pendukung kotak kosong terlihat makin percaya diri dengan beredarnya struktur tim pemenangan mereka di grup-grup whatsApp serta platform media sosial lainnya.
Dalam struktur pemenangan yang beredar nama sejumlah politisi serta tokoh masyarakat Maros bertengger di posisi strategis struktur tim pemenangan. Hatta Rahman, mantan bupati Maros dua periode sebelum masa pemerintahan Chaidir Syam-Suhartina Bohari menempati posisi penasihat tim pemenangan kotak kosong brrsama sejumlah polisi lainnya. Politisi yang sepanjang karirnya berkiprah di Partai Amanat Nasional (PAN) sebelum memilih hijrah sebagai caleg DPR RI Dapil Sulsel II melalui PPP pada pileg 2024 kemarin namun gagal menembus kerasnya persaingan di Dapil neraka yang meliputi Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Soppeng, Wajo. Bone, Sinjai dan Bulukumba.
Nama lain yang cukup familiar yang tercantum di struktur pemenangan kotak kosong adalah Andi Ilham Nadjamuddin yang saat pileg kemarin terdaftar sebagai caleg DPRD Sulsel dari Partai Gerindra untuk Daerah Pemilihan (Dapil) VI Sulsel yang meliputi Kabupaten Maros, Pangkep, Barru dan Parepare setelah sebelumnya pada 2019 ikut berkontestasi di pilkada Maros sebagai kandidat wakil bupati mendampingi Andi Harmil Mattotorang.
Keberadaan nama Andi Ilham Nadjamuddin di struktur pemenangan kotak kosong diragukan sejumlah pihak mengingat putra Bupati Maros dua periode ini mengantongi KTA Partai Gerindra sehingga keberadaannya di tim pemenangan kotak kosong berseberangan dukungan dengan partainya yang merupakan salah satu partai peingusung Chaidir Syam-Muetazim Mansyur (CS’TA).
Selain nama besar seperti Wawan Mattaliu, budayawan serta mantan anggota DPRD Sulsel selama dua periode yang pada pilkada 2019 silam ikut memperkuat kubu Chaidir Syam-Suhartina Bohari juga terdapat nama yang belakangan sempat viral di Maros terkait laporan pidana yang diajukan tim CS’TA ke Bawaslu adalah Hj. Johar yang rumahnya di Bulu-Bulu, Desa Marumpa, Kec. Marusu menjadi tempat berlangsungnya pertemuan yang dihadiri massa yang menerikkan yel-yel dengan ajakan memilih kotak kosong serta menggelar orasi seruan memilih kotak kosong yang dihadiri Plt Bupati Maros, Suhartina Bohari.
Tak hanya itu nama besar Anwar Patahuddin, tokoh multi talenta yang namanya sempat viral sebagai orator kotak kosong yang menggetarkan kediaman Hj. Johar rupanya ikut memperkuat barisan kotak kosong sebagai tim pemenangan dengan posisi penasihat.
Dengan beredarnya struktur pemenangan tim kotak kosong di pilkada Maros akhirnya rumor serta desas desus pendukung serta tokoh dibalik kotak kosong terkuak lebar ke publik sehingga ke depannya percakapan publik menyangkut kotak kosong tidak perlu lagi berlangsung dari balik pintu dengan identitas yang disamarkan.
Chaidir Syam bukan tipikal pemimpin yang tertutup terhadap masukan, aspirasi maupun kritikan dari pihak manapun termasuk dari mereka yang memilih jalan oposisi. Maros menurut Chaidir Syam tak mungkin bertransformasi tanpa partisipasi semua pihak terutama warga Maros sendiri tak terkecuali partisipasi dari mereka yang memilih berada di luar sistem untuk mengontrol jalannya pemerintahan.
Dalam satu kesempatan, Chaidir Syam mengutip prinsip, “No One Left Behind” (Jangan Tinggalkan Seorang pun) tanpa keraguan untuk menunjukkan komitmennya pada agenda pembangunan masa depan Maros . Terkait komitmennya tak meninggalkan warga Maros terutama kelompok rentan seperti disabilitas, perempuan dan anak di periode pertama kepemimpinannya bersama Suhartina Bohari, mantan aktivis NGO yang sempat mendedikasikan diri sebagai aktivis sosial yang bergulat dengan kebutuhan dasar masyarakat sebelum memilih dunia politik sebagai lahan pengabdiannya bersama Suhartina Bohari di periode pertama sebagai bupati, Chaidir Syam meletakkan pondasi yang kokoh bagi perlindungan hak komunitas rentan dengan Perda Inklusi, Perda Disabilitas, Komisi Disabilitas Daerah serta mencanangkan Maros sebagai Kabupaten ramah disabilitas, anak dan perempuan.
Obsesinya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia warga Maros dibuktikan dengan menggelontorkan anggaran daerah sebesar 400 miliar. Hal yang sama dilakukan terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat lewat pembangunan infrastruktur kesehatan serta penambahan dan peningkatan kualitas tenaga medis dan yang tak kalah pentingnya adalah back up dana cakupan penerima BPJS bagi warga Maros terutama bagi yang tidak mampu dengan nilai keseluruhan untuk sektor kesehatan ini berkisar 300 miliar rupiah.
Ditanya mengenai pendukung kotak kosong yang terus berkonsolidasi, Chaidir Syam tersenyum simpul sembari berucap, “Begitulah politik dengan segala dinamikanya. Di era demokrasi dan keterbukaan semua bisa terjadi, kita nikmati saja prosesnya”.