Selepas menghadiri pemanggilan klarifikasi Polda Metro atas sejumlah pengaduan terkait dugaan hate speech dalam pementasan “Mens Rea”, Pandji Pragiwaksono didampingi advokat senior Haris Azhar menjelaskan pada awak media kalau materi yang disampaikan dalam “Mens Rea” sebatas lawakan yang tujuannya untuk menghibur masyarakat. Dengan memberi penekankan pada aspek hiburan, Pandji sedang mengajukan pembelaan kalau dirinya tak memiliki mens rea. Maksud yang sama disampaikan Panji saat bersilaturrahmi sekalian berusaha bertabayyun ke Ketua MUI.
Dengan mengaku tak memiliki mens rea pada penyidik dan MUI, dua entitas pemegang otoritas kebenaran (profan dan sakral) peluang kasus Pandji berakhir damai terbuka lebar. Sebagai komedian profesional, “Mens Rea” sejatinya barang dagangan yang tunduk pada hukum pasar yang butuh kemasan menarik dan segmentatif. Berhubung Pandji dikenal luas sebagai komedian yang gemar mengeksplorasi isu politik sebagai materi komedi, membuat publik penasaran dengan isu atau tokoh politik mana yang akan diroasting Pandji dengan gaya sarkastis. Tanpa majas sarkasme dalam menyerang individu atau komunitas dalam komedi yang menyerempet kekuasaan, pementasan stand-up comedy tidak bakan seru dan pecah.
Sarkasme lebih mudah dipahami serta lebih mewakili luapan emosi audiens dibanding satire yang tak menyerang secara personal. Namun satu hal yang sering dilupakan, kedua senjata retorika tersebut, sarkasme dan satire memiliki tujuan yang sama, membongkar kedok realitas yang disembunyikan dibalik jargon palsu. Jika sarkasme adalah panah yang diarahkan pada invidu, maka satire adalah komedi yang berlindung dibalik jubah kritikus sosial. Dengan ucapan sarkas, Pandji meledek absurditas penegakan hukum serta berbagai kebijakan publik yang tidak adil, memihak kekussaan, dan merugikan kepentingan masyarakat luas.
Di tengah carut-marut ekonomi dan prilaku korup elit politik yang tak kunjung membaik, publik membutuhkan katarsis untuk sekadar melepaskan kedongkolan dan amarah yang sudah tiba di ubun-ubum agar bisa sedikit rileks. Pandji yang memahami psikologi tersebut menyiapkan saluran yang pas, n bum, MensRea pecah. Nama Panji Pragiwaksono meledak dan menjadi pusat wacana. Debat sengit di medsos hingga berujung laporan polisi tak mengikis popularitas Pandji. Sebaliknya, serangan bertubi-tubi hanya mengaplifikasi namanya hingga terus bertahan sebagai pusat wacan dengan benefit yang terus mengalir.
Di sisi lain, situasi yang terus memanas disadari Pandji sebagai ancaman, terutama dari sayap puritanisme islam. Strategi menyambangi MUI sebagai pemegang otoritas kebenaran untuk menyampaikan kalau dirinya tak memiliki niat menista islam sangat bisa dipahami. Besarnya dukungan masyarakat sipil yang berharap Panji tetap kekeh dan memilih jalan pedang mengahadapi para pelapor rasanya berlebihan jika menimbang latar Pandji yang bukan aktivis sosial sebagaiman langkah tegap Haris dan Fatia yang memilih duel dengan Luhut Binsar Panjaitan di pengadilan.
Tidak ada yang ganjil dengan pilihan Pandji dan tak seharusnya ada yang kecewa apalagi protes sebagaimana kekecewaan yang dirasakan dr. Tifa, Rismon Sianipar, serta Roy Suryo in the gang atas langkah kompromi Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis yang memilih jalan restoratif justice untuk mrlepaskan diri dari jerat hukum dalam dugaan ijazah palsu Jokowi. Mereka yang berharap Pandji ngotot melakukan perlawanan hanya karena posisi berdiri Pandji yang cukup kokoh dalam perspektif demokrasi. Pandji yang lahir di Singapura dan berkesempatan berkarir sebagai komedian di New York tak pernah merasakan perihnya gas air mata serta kerasnya pentungan aparat saat demonstrasi. Sebaliknya Pandji menikmati limpahan kebebasan berekspresi di panggung-panggung stand-up comedy sembari dengan leluasa menyebut “f*** you” pada Presiden Amerika tanpa sedikit pun rasa cemas.
Pandji sejak awal sadar dengan konsekuensi materi yang dijajakannya dalam “Mens Rea” bersinggungan dengan delik penistaan dan hate speech sehingga sejak dini meminta advis Haris Azhar yang kemudian membekalinya mantra tolak bala, “Menurut keyakinan saya” yang menurutnya wajib dibaca setiap menyampaikan pandangan di depan publik agar selamat dari delik penistaan dan ujaran kebencian. Meskipun terdengar aneh bin ajaib, saya kira (menurut keyakinan saya), Pandji tak meyakini mantra konyol tersebut dan juga tak penting bagi Pandji yang sadar betul hanya materi yang menyeret hal tabu atau materi tepi jurang yang berpotensi viral dan bernilai jual tinggi. Dalam perspektif pidana, suatu tindakan disebut mengandung unsur kesengajaan (dolus) manakala pelaku mengetahui (weten) tindakannya termasuk delik dan menghendaki (willen) pelaksanaannya.
Sejak awal Pandji menyadari dan menghendaki tindakannya bisa membuat orang lain merasa dinista martabat serta keyakinannya dan karenanya Pandji berusaha mencegahnya lewat matra, “Menurut keyakinan saya”. Dari aspek yuridis formal tindakan Pandji Pragiwaksono berpotensi berurusan dengan penyidik.
Pernyataan Pandji di depan awak media usai meenghadiri undangan klarifikasi Polda Metro kalau yang dipermasalankan hanya lawakan atau dalam tafsir publik adalan bentuk penyangkalan kalau dirinya punya mens rea, merupakan respon manusiawi untuk menghindari pidana. Padahal faktanya, Gibran secara terbuka menyampaikan pihaknya tak me permasalahkan ucapan Pandji, halnya pernyataan tokoh NU dan Muhammadiyah yang tidak pernah memberi mandat pihak tertentu mewali lembaga tersebut sebagai pengadu ke Polda Metro. Artinya tanpa pengaduan korban atau reperesentasi lembaga, Pandji sulit terseret delik pidana. Jika faktanya demikian, mengapa Pandji tak memilih jalan pedang dan melayani mereka yang mengadukannya halnya Haris Azhar dan Fatia yang melayani ajakan duel Luhut Binsar Panjaitan di pengadilan. Sementara dua institusi besar NU dan Muhamadiyah merasa tidak pernah memberi mandat seseorang sebagai pengadu. Sedang kunjungan untuk bersilatirahmi dan bertabayun ke MUI sudah jamak.
Soal sikap Pandji yang mengalah dan memilih jalan aman lewat pengakuan “ini hanya lawakan untk menghibur masyarakat” yang dalam nalar publik bentuk pembelaan diri agar terhindar pidana bukan memilih jalan pedang tanpaknya akan menghancurkan reputasi Pandji sebagai komedian politik yang telah melambungkan namanya.
Menurut keyakinan saya, “Mens Rea” adalah puncak reputasi Pandji sebagai komedian vocal sekaligus dengan sadar mengukir sendiri nisanya.