Semalam Sahabat Kami Berpulang

Andi Baso, S.H., S.H.I.

Berkawan baik selama 30 tahun lebih saya punya banyak kenangan tak terlupakan bersama almarhum yang oleh kawan-kawan akrab disapa ust. Baso. Penampilannya yang bersahaja dengan rambut dan janggut yang belakangan dibiarkan memanjang tanpa sentuhan pewarna tampak memancarkan kharisma seorang tokoh militan namun pada setiap kehadirannya selalu membawa suasana guyub, seru lagi menyejukkan.

Salah satu peristiwa yang tidak mungkin saya lupakan sepanjang hidup saat bersama almarhum mengikuti ujian advokat di tahun 2002. Ragu pada kemungkinan kondisi meja di lokasi ujian bermasalah saya putuskan membawa papan clipboard sebagai pengalas. Papan bertuah yang dulu mengantar saya serta adik-adik saya masuk perguruan tinggi negeri saatnya kembali diuji.

Tiba di lokasi ujian di gedung UNM ternyata banyak pedagang yang menjajakan papan clipboard dan para peserta ujian rame-rame membeli. Usai ujian papan clipboard bertebaran dibuang pemiliknya, saya berpikir papan bertuah di tangan saya yang usianya sudah di atas 10 tahun ini sudah saatnya dibuang lalu sebagai gantinya saya memungut satu yang berserakan di lantai. Tiba-tiba almarhum menarik papan tersebut dari tangan saya dan membuangnya sambil berucap, “ini bukan milik kita”.

TERKAIT:  Unhas dan Agenda Penyelamatan Bumi?

Jika barang yang dibuang pemiliknya saja tidak boleh dipungut, bisa dibayangkan sikap almarhum terhadap barang milik orang lain atau milik publik.

Almarhum pada akhirnya tidak memilih jadi advokat tapi tetap fokus sebagai aktivis lingkungan dan masyarakat adat. Dalam sejarah perjalanan karirnya, almarhum bahkan sempat terpilih dan menjabat satu periode sebagai anggota DPRD Kabupaten Luwu dari partai Gerindra. Pasca menduduki kursi legislatif, almarhum terpilih sebagai Kepala Desa Bonelemo. Menjabat sebagai kepala desa justru makin meneguhkan komitmennya pada perlindungan terhadap lingkungan dan masyarakat adat yang merupakan habitat asalnya.

Menjadi wakil rakyat tak sedikitpun membuat perilakunya bergeser. Ke mana-mana dalam balutan kaos oblong, celana jeans dan sandal jepit merupakan outfit kebanggaannya. Bahkan dalam perjalanan dinas ke Jakarta kawan-kawannya lebih sering menemukannya di pesawat dengan kostum yang juga digunakannya sehari-hari. Hanya pada momentum tertentu almarhum tampil dengan busana formal

TERKAIT:  Penjual Kelapa, Demokrasi dan Masa Depan Bangsa

Memilih hidup bersahaja sekalipun sebagai anggota dewan dan tokoh masyarakat sanggup membuatnya bergaya hidup seperti lazimnya para politisi.

Beberapa tahun pasca meninggalkan kehidupan kampus saya menyemai rumahnya. Disuguhi sepiring besar pisang goreng, sambil menyeruput kopi saya memperhatikan rak buku di salah satu ruangan yang mulai sempoyongan menahan beban. Sambil berseloroh saya berucap, “Kau wariskan juga kemiskinan itu pada anak-anakmu”.

Mendengar ucapan saya, almarhum tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar seakan lelucon paling lucu di atas bumi ini adalah menertawakan hal yang paling dicemaskan oleh mereka yang masih hidup. Sekalipun terpisah ratusan kilo meter saya masih menyempatkan diri menghubungi almarhum untuk sekadar mendiskusikan hal receh atau menanyakan kabar yang selalu dijawabnya baik dan sehat.

TERKAIT:  Mengenai Pram, Knut Hamsun dan Gogol

Belakangan saya sering mengajaknya diskusi soal kematian dan tidak pernah ditanggapinya secara serius. Mungkin bagi almarhum kematian hanyalah mekanisme alam biasa seperti ketika terbangun di pagi hari setelah semalaman tertidur usai beraktivitas seharian.

Almarhum berpulang dua hari pasca saya menjenguknya di rumah sakit dalam keadaan kritis. Dalam kondisi tidak lagi bisa merespon saya mengabarinya kalau Iran berhasil memaksa Amerika ke meja perundingan tanpa perlu menaati syarat yang diajukan presiden Trump menindaklanjuti diskusi via telepon bersama Yunus Tiro dan Taufiq Djalal di hari ketiga perang Iran-Amerika.

Saat menjenguknya saya diberitahu progrosisnya buruk, karsinoma paru yang menyerangnya sudah stadium lanjut yang secara medis peluangnya untuk sembuh sangat tipis. Namun ketika kabar kepergiannya tersiar tetap saja membuat nyesek.

Selamat jalan kawan, insya Allah tempat terbaik telah disiapkan untukmu di sisi-Nya.