Penulis: drg. Ernawati N, Sp.Ort.

Dua tahun lalu atas perintah kementerian kesehatan (Kemenkes), Ahli bedah saraf Prof. Zainal Muttaqin dipecat oleh Rumah Sakit Kariadi Semarang. Baru-baru ini Kemenkes kembali memutasi Ketua Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia sekaligus Konsultan Jantung Anak RSCM dr. Piprim Basarah Yanuarso. Kedua peristiwa ini merupakan bentuk perilaku otoriter kementerian kesehatan.

Menghukum maling ayam dengan kurungan setahun saja berlebihan apalagi menghukum para pengajar mahasiswa specialis ini dengan pemecatan dan mutasi tak berdasar.

Menempatkan orang yang bukan dokter sebagai menteri kesehatan memanglah langkah tepat untuk menghancurkan kolegium, universitas dan sistem pendidikan specialis. Orang-orang ini tidak memiliki beban moral “mengorbankan teman sejawat” ke tiang gantungan.

TERKAIT:  Menggebrak MK Seraya Menggantung Hak Angket Lalu Patgulipat Dibalik Panggung ?

Asal paham saja Prof. Zainal. Muttaqin bukan bedah saraf biasa. Beliau ikut andil mengajar 550 dokter specialis bedah dan 550 dokter specialis saraf. Keilmuan bedah saraf yang beliau tekuni begitu khusus yakni mengoperasi pasien-pasien epilepsi. Sebelum pemecatan beliau sudah mengoperasi 900 pasien epilepsi dan yang masih mengantri untuk ditangani masih sangat panjang. Dr. Piprim Yanuarso dokter specialis anak sub specialis jantung anak RSCM. Keduanya dokter mumpuni dengan keilmuan khusus dan merupakan staf pengajar yang tentu saja menjadi pilar utama Program Pendidikan Dokter Specialis di Indonesia.

Lagi phla, sejak kapan mengeritik penguasa menjadi tabu?

Mengeritik Kemenkes sudah tentu harus dilakukan oleh tenaga pengajar. Itu jika kita merasa pembenahan adalah hal mutlak yang notabene harus terus menerus dilakukan demi kemaslahatan. Saya sendiri tidak paham apa pentingnya membangun kesan seram ini bagi Kemenkes?

TERKAIT:  Unhas dan Agenda Penyelamatan Bumi?

Kengototan Kemenkes hanya membuat kolegium dan rumah sakit kocar kacir. Pasien kehilangan dokternya dan mahasiswa specialis kehilangan dosennya.

Rasanya ingin tertawa dengan tawa yang paling pahit..