Ketidakadilan, kemunafikan dan keserakahan saban hari dipertontonkan secara telanjang, dan kita yang harusnya mengambil bagian membenahinya justru ikut menceburkan diri bahkan berbangga pada hal-hal yang seharusnya kita tolak.
Kita bangga kalau penguasa datang dari golongan kita sekalipun kita sadar semua diperoleh dengan cara menggencet sana-sini, meranpas hak orang lain, menghancurkan alam tanpa memperdulikan kepentingan orang banyak dan mengabaikan daya dukung lingkungan.
Kita mengelu-elukan mereka yang terang-terangan mengambil hak publik lewat beragam modus korupsi hanya karena alasan primordial, satu etnis atau komunitas dengan kita. Bahkan anak-anak mereka yang masih bau kencur kita sanjung-sanjung sebagai tokoh padahal nama besar pun mereka warisi dari bapak, om, tante mereka yang telah menyengsarakan orang banyak.
Semesta tak menunggu kiamat untuk datangnya pembalasan. Semesta memantulkan balik apa yang dilontakan padanya. Kearifan kuno mengajarkan, apa yang kita tabur, itu yang kita tuai.
Jadi berhenti saja menuding orang lain provokator dan menampilkan diri dan golongan sendiri sebagai hero atau santo. Sebab sejatinya provokator itu adalah kita sendiri.
Saban hari kita menimbun keserakahan, ketidakadilan serta kesewenangan hingga tanpa sadar membuat orang banyak menderita dan sekarat. Pada mereka yang tertindas, semesra merespon lantunan kepedihan dan kemarahan mereka dengan suplai energi tak terbatas untuk bangkit dan melawan. Cepat atau lambat air bah perlawanan akan meluluhlantakkan segalanya. Hukum tabur tuai itu nyata, dan Itu yang sedang kita saksikan hari hari ini.
Kita menolak pemimpin brengsek yang hanya terampil mengangkangi hak publik. Rakyat butuh leader yang paham gerak semesta, yang sanggup terus menari di tengah gelombang perubahan selaras dengan irama semesta agar kehidupan tetap harmoni dan petaka bisa dicegah.