Hoaks Dan Keranjang Sampah

* Zainal Arifin Ryha

Akar dari maraknya hoaks di sosial media adalah kebencian yang difasilitasi oleh perkembangan teknologi komunikasi yang eksponensial. Dulu kebencian tidak sampe menyeruak secara masif di ruang publik disebabkan terbatasnya instrumen utk mengekspresikannya di satu sisi dan di sisi lain adanya pembatasan yang ketat oleh rezim penguasa yang mengedepankan pendekatan represif (security approach).

Di era demokrasi seiring disrupsi teknologi saat ini, semua orang tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga produsen berita sehingga semua orang boleh mengekspresikan kebenciannya.

Tapi tidak perlu terlalu risau terhadap fenomena ini karena tidak akan menyebabkan ambruknya sendi-sendi bermasyarakat. Itu gejala yang normal saja. Di banyak negara yang peradaban demokrasinya sudah cukup mapan, hoaks dianggap biasa saja. Ibarat dagangan, tergantung orang mau beli atau tidak.

TERKAIT:  Muscab Saat Citra di Titik Terendah

Kita juga tidak bisa meniadakan hoaks sama sekali. Selama masih ada ketimpangan sosial, hoaks menjadi absah. Apalagi jika kebencian itu tidak terlembagakan dalam sistem politik.

Bangsa ini memang dibangun dengan DNA kebencian. Di era pra kemerdekaan, Bung Karno membangun ressentiment terhadap kaum kulit putih yang dipersepsikan sebagai penindas, meskipun banyak daru kaum kulit putih atau semi kulit putih (indo) yang berperan besar bagi kemerdekaan Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa Bung Karno dkk adalah “anak kandung” dari mereka yang diidentifikasi sebagai asing.

Di era kemerdekaan, kebencian menyeruak antara Islam, nasionalis dan komunis yang berakhir pada era 1966 dengan orde baru yang abangan sebagai pemenang. Di masa orde baru, kebencian terjadi antara yg “pancasilais” dan “non pancasilais”, dan di era reformasi antara “Islam sejati” dan “Islam kurang sejati”.

TERKAIT:  GM & Jokowi yang Berubah

Kita juga tidak bisa berharap moralitas sepenuhnya bisa terwadahi dalam demokrasi, sebab demokrasi memang dibangun di atas asumsi dasar “homo homini lupus” yang mengandaikan hakikat dari interaksi sosial adalah konflik.

Yang mungkin jadi soal jika kebencian bukan disuarakan oleh emak-emak dan kaum tertindas lainnya, tetapi oleh mereka yang menikmati, atau pernah menikmati akibat ketimpangan struktural itu.

Akhirnya kembali kepada kearifan masing-masing untuk memposisikan ragam hoaks yang ada. Menempatkannya dalam hati, atau meletakkannya dalam keranjang sampah?

*Penulis merupakan fungsionaris KAHMI dan mantan Ketua Umum HMI Cabang Makassar.